Sejarah Singkat Jembatan KH Hasan Basri

0
106 views

BRAYANEWS | MUARA TEWEH–Jembatan KH Hasan Basri adalah sebuah jembatan yang melintang di atas Sungai Barito dan berlokasi di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Barut), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Jembatan ini memiliki panjang sekitar 270 meter dan lebar 5 meter berkontruksi baja buatan Australia dibangun pada tahun 1992 dan selesai pada tahun 1995. Nama jembatan diambil dari nama seorang tokoh kelahiran Muara Teweh, yaitu mantan Ketua MUI pusat, yakni almarhum KH Hasan Basri.

Jembatan KH Hasan Basri merupakan sarana angkutan penumpang dan barang yang menghubungkan wilayah kabupaten Barito Utara dan kabupaten Murung Raya serta Banjarmasin.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) H Shalahuddin mengatakan pembangunan jembatan Hasan Basri pada saat itu melalui tahapan-tahapan.

“Jadi, pada tahun 1992 lalu, waktu itu bupati Barito Utara di jabat oleh Drs ADj Nihin. Saat membangun jembatan target pertama adalah bagaimana jembatan bisa fungsional, agar bisa membuka akses jalan ke Banjarmasin,” kata Kadis PUPR Kalteng usai mengikuti rapat koordinasi di aula BappedaLitbang, kemarin.

Dikatakannya, pada saat membangun jembatan tersebut anggaran sangat terbatas. Dan jembatan Hasan Basri ini benteng yang tersedia di Kementerian PU hanya 60 meter. Jadi memang banyak yang mempertanyakan hal itu.

“Karena pada saat itu kita membangun jembatan untuk membuka akses jalan, agar keterisolasian wilayah bisa terbuka. Dan jangan lupa diantara 6 (enam) jembatan yang melewati Sungai Barito ini, jembatan KH Hasan Basri jembatan yang tertua. Dan jembatan ini masih Tipe B,” kata Shalahuddin.

Kedepannya kata Kadis PUPR Kalteng, tentunya kita akan melihat lagi potensi daerah dan tentunya akan kita tingkatkan terkait desaint jembatan. Pada tahun 2010 pernah dilakukan redesain, namun karena umur jembatan masih 40 tahun lagi, sehingga ditolak oleh Kementerian PU.

“Mungkin posisi di tahun 2035 nanti akan diredesain ulang. Otomatis jembatan yang ada masih terpakai, hanya bangunan bawah (pilarnya-red) yang tidak terpakai, sedangkan bangunan atasnya bisa kita pindahkan ke daerah lain yang membutuhkan,” katanya.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here